Category Archives: Bab 10 Mikrofon dan Teknik Mikrofon

10.17 Miking Instrumen Musik

Setiap instrumen musik memiliki karakteristik khasnya sehingga teknik miking harus disesuaikan dengan setiap jenis instrument. Ketika mikrofon diposisikan untuk menangkap suara dari instrumen musik, harus dipertimbangkan beberapa faktor. Satu faktor esensial: berusaha dapatkan reproduksi suara instrumen paling setia. Oleh karena itu, harus dipertimbangkan faktor kandungan frekuensi dari suara, arah propagasinya, suara gangguan dari instrumen lain yang berdekatan, pantulan, dsb. Berikut adalah beberapa solusi untuk miking instrumen yang umum. Hanya dijelaskan deskripsi teknik miking yang umum, mengingat bahwa penempatan mikrofon adalah seni yang berkembang dengan pengalaman dan – seperti seni lainnya – tersedia banyak ruang untuk solusi imajinatif.

Drum-kit: berikut adalah solusi standarnya:

Gambar 10.22 Contoh miking drum kit

Untuk setiap bagian dari drum kit sebuah mikrofon ditempatkan”

(1)Kick drum (dinamik)

(2)Snare drum (dinamik sensitif)

(3)Hi-hat (kondenser)

(4)Tom 1 (dinamik sensitif)

(5)Tom 2 (dinamik sensitif)

(6)Floor Tom (dinamik sensitif)

(7)(8) Crash cymbal (dua kondenser ditempatkan dengan konfigurasi stereo sesuai pilihan pribadi untuk menangkap suara stereo dari keseluruhan drum kit. Dua mikrofon ini disebut dengan mikrofon overhead).

Gitar akustik: baik mikrofon dinamik atau kondenser dapat digunakan, sesuai dengan pilihan engineer. Mikrofon diarahkan ke badan gitar, di sebelah kayu. Penting untuk tidak menempatkan mikrofon di dekat lingkar lubang, karena udara yang keluar dari lubang ketika badan gitar bervibrasi. Dengan menempatkan mikrofon pada posisi ini terjadi resiko suara udara bergerak yang terekam alih-alih suara gitar akustik. Mikrofon dapat ditempatkan di leher gitar untuk menangkap suara jari-jari yang bergeser pada fretboard, sehingga menambahkan sentuhan hidup (di tahap mixing suara ini bisa ditambahkan dalam jumlah yang sangat lembut). Mikrofon juga dapat ditempatkan di sisi badan gitar.

Gambar 10.23 Miking gitar akustik

Gitar elektrik (Bass elektrik): suara asli dari gitar elektrik atau bass elektrik adalah yang keluar dari amplifier. Oleh karena itu, ketika merekam instrumen ini mikrofon dinamik ditempatkan dekat dengan kerucut amplifier. Karakteristik kerucut amplifer adalah semakin ke tengah semakin tinggi frekuensi yang dihasilkan, karena frekuensi tinggi berpropagasi dari kumparan ke kerucut menujut pusatnya; dan berkurang ketika frekuensi tinggi berdifusi menuju sisi luarnya. Maka, untuk menangkap sinyal yang paling mendekati sinyal asli, mikrofon ditempatkan di bagian tengah kerucut. Amplifier gitar sangat mempengaruhi warna suara gitar, dan jika diinginkan suara yang lebih dekat dengan suara instrumen dapat digunakan DI Box. Suara rekaman amplifier dan DI Box bisa dicampur untuk mendapatkan hasil komposit.

Instrumen Brass: untuk instrumen ini (trumpet, trombon, saxophone, dsb.) penting untuk mengingat bahwa pada ujung kerucut, sejajar arah utama propagasi suara, terdapat kandungan lebih tinggi frekuensi tinggi daripada area yang berada di luar jalurnya.

Gambar 10.24 Contoh miking instrumen brass

Hal penting lainnya untuk dipertimbangkan adalah instrumen brass menghasilkan suara tiupan yang mengganggu karena udara yang melewati struktur instrumen dan tidak bertransformasi menjadi suara. Penempatan mikrofon untuk instrumen brass penting untuk mereduksi gangguan ini, yang sulit dikendalikan ketika mixdown.

Seruling: diagram berikut mengilustrasikan miking tipikal seruling:

Gambar 10.25 Contoh miking seruling

Biola: diagram berikut mengilustrasikan miking tipikal biola.

Gambar 10.26 Contoh miking biola

Piano: piano vertikal memiliki pilihan miking yang terbatas. Solusi paling umum adalah memposisikan kedua mikrofon seperti dalam diagram, dengan teknik miking stereo.

Gambar 10.27 Contoh miking piano sederhana

Untuk grand piano, ada berbagai solusi yang bisa dipilih. Solusi paling sederhana adalah menggunakan dua mikrofon dengan teknik stereo. Solusi yang lebih rumit adalah seperti yang diilustrasikan dalam diagram, dimana sebanyak 8 mikrofon digunakan:

Gambar 10.28 Contoh miking lengkap grand piano

10.15 Teknik Mikrofon Stereo – Mikrofon Berjauhan

Mikrofon diposisikan berjauhan dari satu sama lain. Jarak antara mikrofom bergantung kepada besar sumber suara. Aturannya adalah menjaga rasio 3:1 antara jarak antara mikrofon dengan jarak antara mikrofon dan sumber suara. Teknik ini tidak kompatibel untuk mono sehingga hanya digunakan dalam konteks tertentu.

10.16.1 Teknik AB

Jumlah mikrofon yang digunakan bergantung kepada besar sumber suara. Berikut adalah dua contoh dimana 2 atau 3 mikrofon digunakan, dan jarak relatifnya:

Gambar 10.20 Posisi AB

10.16.2 Decca Tree

Decca Tree merupakan rangkaian mikrofon berjarak yang biasanya digunakan untuk rekaman orkestra. Aslinya dikembangkan sebagai semacam rekaman stereo A-B dengan menambahkan pengisi tengah. Teknik ini merupakan teknik berjauhan yang paling digunakan. Teknik ini dikembangkan awal tahun 1950an dan digunakan secara komersial pertama kali pada tahun 1954 di Decca Records untuk mendapatkan gambar stereo yang kuat.

Decca Tree terkadang dipasang menggunakan pendukung metal segitiga berbentuk “T”. Pendukung “T” memiliki lebar 2 meter dan tinggi 1,5 meter tetapi dapat diubah-ubah. Bentuk dasar Decca Tree ditunjukkan gambar berikut:

Gambar 10.21 Decca Tree

Decca Tree lebih sering menggunakan 3 stan mikrofon, bergantung kepada besar ruangan dan jumlah ruang yang dibutuhkan.

Teknik ini secara tradisional menggunakan 3 mikrofon omnidireksional. Variasi telah dilakukan menggunakan pasangan koinsiden, X-Y, Mid/Side (M/S), atau posisi Blumlein, alih-alih mikrofon tengah.

10.15 Teknik Mikrofon Koinsiden Dekat

Teknik ini menggunakan dua mikrofon diposisikan 16 – 17 cm terpisah, sesuai dengan jarak antara kedua telinga manusia. Teknik ini, selain merekam perbedaan amplitudo, juga merekam perbedaan fase antara kedua sinyal. Hal ini meningkat performa efek stereo, tetapi sekaligus mengancam kompatibilitas mono.

10.15.1 Teknik ORTF (Organization Radio Television Francaise)

Teknik yang berasal dari Perancis ini menggunakan dua mikrofon kondenser dengan pola polar kardioid pada jarak 17 cm satu sama lain dan sudut 110 derajat.

Gambar 10.19 Posisi ORTF

Jika sumber suara yang ingin direkam luas, mikrofon dapat diposisikan dengan jarak 20 cm dan sudut 90 derajat.

10.15.2 Teknik NOS

Nederlandse Omroep Stichting (Dutch Radiotelevision Foundation). Teknik dari Belanda, menggunakan dua mikrofon kardioid yang diposisikan 30 cm terpisah dan sudut 90 derajat.

10.15.3 Teknik OSS – Optimum Stereo Sound

Dikembangkan di Switzerland. Dua mikrofon omnidireksional digunakan, terpisah 17 cm dan sudut 90 derajat. Antara kedua mikrofon, sebuah Jacklin Disc ditempatkan, yang mensimulasi kehadiran kepala manusia.

10.13 Teknik Mikrofon Stereo

Teknik-teknik ini bertujuan mereproduksi medan suara stereo, sehingga menggunakan dua atau lebih mikrofon dengan peletakan yang tepat. Teknik-teknik ini dibagi menjadi tiga kelompok: mikrofon koinsiden, mikrofon berdekatan, dan mikrofon berjauhan, masing-masing memiliki karakteristik beserta keunggulan dan kelemahan, sebagai berikut:

10.14.1 Mikrofon koinsiden

Mikrofon koinsiden (coincident microphones) menggunakan dua mikrofon yang diposisikan pada tempat yang sama. Pola ini merekam perbedaan amplitudo tetapi tidak perbedaan fase antara dua mikrofon karena suara tiba pada kedua diafragma pada saat yang bersamaan. Karakteristik tersebut menjadikan teknik ini kompatibel untuk mono sehingga ideal untuk pekerjaan radio dan televisi.

10.14.2 Teknik Blumlein

Dua mikrofon dengan pola polar angka 8 digunakan dan diposisikan seperti dalam diagram:

Gambar 10.15 Teknik Blumlein

Efektivitas teknik stereo ini berdasarkan kehadiran pantulan yang ditangkap lingkaran posterior kedua mikrofon.

Sudut antara dua diafragma ditetapkan pada 90 derajat. Mikrofon pertama menunjuk ke sisi kiri medan suara dan distimulasi pantulan dari sisi kanan. Hal yang sebaliknya terjadi dengan mikrofon 2. Teknik ini efektif di lingkungan dengan akustik yang bagus, dimana kehadiran pantulan menjadi faktor penentu dalam pewarnaan suara. Pada mixer, kedua suara dipertahankan terpisah dan dialirkan langsung ke output.

10.14.3 Teknik XY

Teknik ini melibatkan dua mikrofon kondenser dengan pola polar kardioid pada sudut antara 90 hingga 110 derajat (sudut yang lebih besar dapat menghasilkan lubang di medan suara stereo).

Gambar 10.16 Teknik XY

Pada mixer kedua sinyal dipertahankan terpisah dan dialirkan langsung ke output.

10.14.4 Teknik MS – Mid Side

Teknik ini melibatkan dua mikrofon, satu dengan pola polar kardioid dan satu angka 8, diposisikan seperti berikut:

10.17 Teknik Mid Side

Mikrofon kardioid mereproduksi sinyal yang datang dari depan, sementara angka 8 mereproduksi sinyal dari sisi-sisi. Untuk membaca sandi sinyal di mixer, skema berikut digunakan:

Gambar 10.18 Membaca sandi sinyal Mid Side

Sinyal tengah direproduksi persis apa adanya, sementara sinyal dari mikrofon angka 8 dipisah menjadi dua. Satu bagian dikirim ke loudspeaker kiri dan satu bagian lagi dibalik fasenya dan dikirim ke loudspeaker kanan, setelah keduanya diatenuasi sebesar 3 dB (untuk mengkompensasi sinyal yang dipisah dua). Kompatibilitas mono dijamin fakta bahwa menggabungkan kedua sinyal, sinyal dari mikrofon angka 8 saling meniadakan.

Amplitudo medan suara dikendalikan oleh kendali panpot yang bekerja pada sinyal kedua sisi.

10.11 Mikrofon Khusus – Shotgun dan Parabola

10.11.1 Shotgun

Mikrofon ini terdiri atas diafragma yang diletakkan pada ujung selongsong bercelah.

Gambar 10.13 Mikrofon shotgun

Keistimewaan mikrofon jenis ini adalah suara yang tidak berasal dari arah ditunjuk memasuki selongsong melalui celah-celah di sisi dan, karena panjang selongsong, dipantulkan berkali-kali sehingga saling meniadakan. Sedangkan suara yang berasal dari arah ditunjuk melalui selongsong tanpa hambatan. Mikrofon ini digunakan untuk menangkap sumber suara spesifik dalam ruang, bahkan pada jarak yang jauh.

10.11.2 Parabola – Mikrofon Reflektor

Gambar 10.14 Mikrofon reflektor

Cakram parabola yang terbuat dari material dengan daya pantul tinggi memusatkan suara insiden ke satu titik fokus sehingga mengamplifikasinya.

10.10 Mikrofon Zona Tekanan

Mikrofon zona tekanan (Pressure Zone Microphone atau PZM). Zona tekanan adalah ruang yang terbuat dari permukaan dengan daya pantul tinggi. Sebagai hasil, dekat zona tekanan medan suara yang terdiri dari gelombang insiden dan gelombang pantul nyaris dilipatgandakan. Dimensi zona tekanan adalah 1/6 dari panjang gelombang, karena untuk mendapatkan penguatan medan suara dibutuhkan agar gelombang insiden dan pantul berada dalam satu fase. Mikrofon PZM dipasang pada plat horizontal dan diposisikan dalam zona tekanan. Contoh, untuk sinyal komposit yang memiliki rentang frekuensi dari 20 Hz hingga 20 kHz, frekuensi tertinggi harus diperhitungkan untuk menemukan titik ideal lokasi mikrofon. Pada frekuensi 20 kHz mikrofon diletakkan kurang dari 2.88 mm dari permukaan pantul. Berapapun reduksi pada dimensi diafragma, mikrofon PZM memiliki respon frekuensi rendah yang bagus.

Pola polar mikrofon PZM sangat lebar dan memilik bentuk kubah:

Gambar 10.12 Pola polar mikrofon PZM

10.9 Mikrofon Kondenser Diafragma Dua

Mikrofon jenis ini sangat ampuh. Mikrofon jenis ini memungkinkan modifikasi karakteristik masing-masing diafragma untuk mendapatkan pola polar dengan karakteristik yang kita inginkan melalui kombinasi keduanya. Pada dasarnya, terdapat dua diafragma yang saling berhadapan, dan rangkaian yang menjadi sumber dayanya yang dikendalikan oleh saklar berdesain khusus. Kita lihat konfigurasi yang mungkin:

Omnidireksional

Gambar 10.9 Konfigurasi omnidireksional

Diafragma masing-masing memiliki pola polar dan polaritas yang sama.

Figur 8

Gambar 10.10 Konfigurasi figur 8

Diafragma memiliki pola polar yang sama tetapi polaritas yang berbeda. Hal ini menjamin suara yang berasal dari sisi-sisi dibatalkan karena menghasilkan sinyal yang berbeda fase.

Kardioid

Gambar 10.11 Konfigurasi kardioid

Dalam kasus ini kedua diafragma kardioid berbeda fase dan sinyal yang berasal dari salah satu teratenuasi. Bergantung kepada derajat atenuasi kita bisa menghasilkan gradasi diafragma yang berbeda, dari kardioid hingga hiperkardioid.