Arsip Tag: telinga manusia

6.10 Arus Bias

Frekuensi tinggi mengandung energi lebih sedikit sehingga lebih sulit mempolarisasikan partikel pada pita. Ini terjadi ketika partikel belum bergerak sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk mengalahkan inersianya agar menggerakkan partikel dari keadaan diam. Solusi terhadap fenomena ini adalah menerapkan energi magnetik pada saat partikel sudah dalam keadaan bergerak sehingga memudahkan polarisasinya. Untuk melakukan ini, kita menambahkan suatu arus bias kepada sinyal yang ingin kita rekam. Arus bias adalah arus dengan kandungan frekuensi tinggi yang melebihi daya dengar telinga manusia dan cukup kuat untuk menggerakkan partikel. Diagram berikut menunjukkan sinusoid dengan penambahan arus bias, dan sinyal yang dihasilkan dikirim ke recording head.

Gambar 6.9 Arus bias

Gambar berikut menunjukkan sudut pandang yang berbeda bagaimana arus bias menggerakkan sinyal suara dan memindahkannya ke zona linear pita.

Gambar 6.10 Arus bias dan karakteristik transfer pita magnetik

Arus bias bisa menjadi solusi yang efisien untuk menghapus pita magnetik. Jika kita menerapkan arus bias menggunakan daya magnet paling kuat (dengan menghindari kejenuhan), partikel pada pita terpolarisasi semuanya sehingga mengeliminasi informasi yang berhubungan dengan magnetisasi sebelumnya.

5.2 Equalizer

Equalizer adalah rangkaian yang mampu mengamplifikasi atau mengatenuasi rentang frekuensi tertentu dan membiarkan yang lain tetap utuh. Sekarang kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk menerjemahkan kurva yang menggambarkan perilaku equalizer. Adalah grafik, yang diplot pada diagram amplitudo-frekuensi, kemudian dilipatgandakan oleh sinyal input untuk mendapatkan sinyal output (kita ingat sekali lagi bahwa X(f), Y(f), dan H(f) berada dalam domain frekuensi).

Dua contoh menjelaskan lebih lanjut.

  1. H(f) = konstan dan bernilai 1 untuk seluruh spektrum. Kita mendapatkan persamaan berikut:

    Y(f) 	= X(f)

    Dengan kata lain sinyal input tidak terpengaruhi oleh rangkaian sehingga output tidak mengalami perubahan

  2. H(f) = 1 untuk rentang frekuensi tertentu, dan lainnya 0:

    5_2_example_ideal_filterGambar 5.2 Contoh filter ideal

    Hasil Y(f) didapatkan dengan mengalikan X(f) dan H(f). Ketika H(f) sama dengan 0 kita mendapatkan Y(f) = 0. Ketika H(f) = 1, kita dapat Y(f) = X(f). Ini adalah contoh dasar dari filter band-pass ideal. Meski topik ini akan dibahas lebih detail, kita sudah bisa mulai melibat bagaimana fungsi transfer tipe ini memungkin kita mengekstrak rentang frekuensi tertentu dari sinyal input (antara 5 kHz dan 10 kHz pada diagram diatas).

    Filter ini disebut ideal karena pada kenyataannya tidak mungkin ada rangkaian dengan fungsi transfer yang sedemikian mendadak. Pada kenyataannya transisi terjadi secara gradasi dan kita akan melihat bagaimana laju meningkat seiring kompleksitas, dan juga harga, dari rangkaian meningkat. Ada beberapa macam equalizer, dan kita akan menganalisa equalizer yang paling penting pada bagian berikut:

5.2.1 Bell equalizer – Peak bell EQ

Transfer fungsi equalizer tipe ini ditunjukkan gambar berikut:

5_3_bell_equalizerGambar 5.3 Bell equalizer

Equalizer tipe ini memiliki 3 kendali:

  1. Gain (reduksi/amplifikasi – cut/boost)

    Bertindak atas amplitudo A dari bell yang bisa positif (amplifikasi) dan negatif (atenuasi). Amplifikasi maksimum adalah parameter yang bergantung kepada kualitas rangkaian: untuk mencapai 15 dB gain tanpa tambahan distorsi membutuhkan teknologi yang rumit. Pada umumnya kita temukan EQ tipe ini pada mixing desk channel. Semakin profesional kualitas mixer, semakin tinggi level gain yang bisa didapat melalui EQ peak tanpa tambahan distorsi. Pada mixer kualitas medium, level gain sekitar 12 dB (mengingat antara 12 dan 15 dB terdapat penggandaan sinyal dari segi elektrik, sehingga merupakan perbedaan yang signifikan).

  2. Cut frequency

    Ini adalah frekuensi yang memiliki gain tertinggi atau terendah pada bell. Umumnya dikendalikan oleh potentiometer sehingga memungkinkan bell ditempatkan tepat di tengah-tengah rentang frekuensi yang ingin kita ubah.

  3. Q-factor

    Ini adalah parameter yang mengukur amplitudo bell, dengan kata lain, amplitudo dari rentang frekuensi yang diamplifikasi (atau teratenuasi). Dihitung menggunakan formula:

    Q = \frac{f_c}{relative bandwidth}

    dimana relative bandwidth diukur pada 3 dB dibawah peak (lihat diagram sebelumnya). Q-factor bekerja independen dari rentang frekuensi yang terlibat. Hal ini terlihat jelas melalui contoh numerik, mengingat bahwa rentang frekuensi logaritmik. Antara 20 dan 100 Hz lebar dari relative band adalah 80 Hz. Jika kita bergerak ke rentang lebih tinggi, I.e 10000 Hz, bell akan meliputi rentang antar 9960 dan 10040 Hz. Dengan kata lain, kita mendapatkan bell yang sangat sempit (yang mustahil direproduksi karena alasan fisik sederhana).

    Jadi, jika kita mempertahankan rentang relatif dari bell dan jika, dengan kendali frekuensi tengah, kita memindahkan filter sepanjang spektrum frekuensi, bell akan menyempit semakin kita mencapai frekuensi tinggi dan melebar semakin rendah frekuensi. Kita menginginkan rentang relatif dari bell konstan setelah ditentukan nilainya, maka kita menambahkan frekuensi tengah kepada formula Q-factor sebagai faktor normalizing.

    Sekarang kita lihat melalui contoh numerik bagaimana kuantitas yang terlibat berubah (w = relative bandwidth):

    Jika fc = 100 Hz dan w = 40 Hz yang berarti bell memiliki pengaruh pada rentang frekuensi relatif 80 – 120 Hz

    kita mendapatkan

    jika fc = 10000 Hz dan Q = 2,5

    kita mendapatkan: yang berarti rentang antara 8000 – 12000 Hz

    Disini terlihat jelas bahwa w harus berubah jika bentuk bell ingin dipertahankan sepanjang spektrum frekuensi (karena telah ditetapkan Q-factor yang konstan). Karena fC telah digandakan, mempertahankan Q-factor yang sama, rentang juga harus digandakan, dengan cara ini bentuk bell tetap utuh (kita tidak lupa bahwa frekuensi direpresentasikan secara logaritmik untuk mendapatkan representasi lebih tepat akan cara telinga manusia mendengar suara. Dengan frekuensi rendah perbedaan 20 Hz relevan, sedangkan pada frekuensi tinggi perbedaan 200 Hz menjadi tidak relevan).

5.2.2 Shelf equalizer – Shelving EQ

Equalizer tipe ini digunakan untuk mengendalikan ujung ekstrim dari spektrum frekuensi suara yang dapat didengar, memiliki dua kendali standar:

  1. Cut-off requency (roll-off): dihitung pada titik dimana kurva gain jatuh 3 dB dari nilai maksimumnya

  2. Gain: menerapkan amplifikasi atau atenuasi sinyal diatas cut frequency

5_4_shelf_equalizerGambar 5.4 Shelf equalizer

5.2.3 Parametric equalizer

Full parametric: adalah memungkinkan untuk memodifikasi ketiga kuantitas pada bell equalizer: central frequency (fC), gain (A), Q-factor (Q). Mixer profesional memiliki 4-band parametric equalizer pada setiap channel.

  1. Semi parametric: Q-factor tetap. Bentuk bell tetap (umumnya Q ditetapkan pada nilai 1,5)

  2. Peak: nilai fC dan Q tetap dan hanya gain yang bisa diubah. EQ ini merupakan yang termurah di pasar dan terpasang pada mixer kualitas rendah.

Diagram berikut membandingkan bagian ekualisasi dari mixer kualitas rendah dengan mixer kualitas tinggi. Kita dapat melihat gain maksimum adalah 12 dB pada mixer pertama, dan 15 dB (bahkan 18 dB) pada yang kedua. Selebihnya, spektrum frekuensi dibagi menjadi 3 band (low, mid, dan high) pada mixer kualitas rendah, sedangkan pada mixer kualitas tinggi dibagi menjadi 4 band (low, mid-low, mid-high, high). Juga pada mixer kualitas tinggi, kurva gain dari low dan high bisa berupa bell atau shelf equalizer sehingga menyediakan fleksibilitas lebih tinggi.
5_5_equalizer_non_professional_mixer

Gambar 5.5 Equalizer pada mixer non-profesional

5_6_equalizer_professional_mixer

Gambar 5.6 Equalizer pada mixer profesional

5.2.4 Graphic equalizer

Graphic equalizer terdiri dari serangkaian single bell equalizer. Lebar dari bell bergantng kepada konteks rancangan equalizer.

Tabel 5.1 Klasifikasi graphic equalizer

Konteks kerja

Lebar bell

Jumlah band

Musician/Hi-Fi

1 oktaf

10

Semi profesional

1/2 oktaf

20

Profesional

1/3 oktaf

31

5.2.5 Active dan Passive Equalizer

Passive equalizer hanya menggunakan komponen pasif yang tidak membutuhkan arus sehingga tidak memunculkan peningkatan nyata dalam gain. Umumnya ketika gain berada pada puncaknya, amplitudo sinyal tidak berubah, sedangkan sinyal teratenuasi ketika gain dikurangi melalui potentiometer atau kursor. Kelemahan utamanya adalah passive equalizer menghasilkan sedikit kehilangan sinyal karena komponen pasif. Active equalizer menggunakan komponen aktif, seperti transistor dan memungkinkan peningkatan gain yang nyata. Namun, sebagai akibat rangkaian aktif maka tingkat distorsi dan noise lebih tinggi terjadi, meski ini hanya terjadi pada equalizer kualitas rendah. Diagram berikut membandingkan gain level dari active dan passive equalizer:

5_7_comparison_active_passiveGambar 5.7 Perbandingan antara active dan passive equalizer

3.9 Phonometer

3.9.1 dBspl meter

Umumnya phonometer memiliki mikrofon yang sangat sensitif dan terkalibrasi agar menangkap tingkat tekanan suara dengan respons yang sama seperti telinga manusia. Biasanya terdapat suatu tombol yang dapat mengubah respons terhadap suara, sehingga mengaktifkan sirkuit-sirkuit yang berbeda:

Circuit A: kurva respons dari sirkuit ini mewakili kurva isofonik telinga manusia pada 40 phons dan memungkinkan pengukuran tingkat tekanan suara menengah seperti pada pembicaraan normal. Pengukuran menggunakan sirkuit ini dinyatakan dalam dB-A.

Circuit B: kurva respons dari sirkuit ini mewakili kurva respons telinga manusia pada 70 phon. Ideal untuk mengukur tingkat tekanan antara 55 hingga 85 dBspl. Pengukuran menggunakan sirkuit ini dinyatakan dalam dB-B.

Circuit C: mengaktivasi suatu sirkuit dengan kurva respons yang rata. Ideal untuk mengukur nilai lebih dari 85 dBspl (terkadang ada sirkuit tipe D untuk mengukur tingkat tekanan suara yang sangat tinggi). Pengukuran menggunakan sirkuit ini dinyatakan dalam dB-C.

3.9.2 VU meter

Nilai 0 pada Vu meter selalu mengindikasi SOL, sehingga dalam peralatan profesional ini berarti +4 dBu (1,2V) sedangkan untuk Hi-Fi -10dBu (0,25V). Vu meter mengukur RMS (Root Mean Square) dari suatu signal, atau dengan kata lain nilai efektifnya, dan digunakan untuk peralatan analog, terutama untuk perekam. Meter ini tidak dirancang untuk mengukur semua transien dari sinyal dikarenakan inersia massa dari jarum penunjuknya.

3.9.3 PPM Meter

PPM adalah singkatan untuk Peak Program Meter, dan seperti namanya, memberikan pengukuran peak dari sinyal dan bukan nilai efektifnya. Meter ini mengikuti semua transien sinyal dan terutama digunakan mengukur sinyal digital. Unit pengukurannya adalah dBfs (dB Full Scale).