2.8 Equal Loudness Contour

Kurva isofonik adalah grafik yang penting untuk membantu kita memahami bagaimana telinga manusia berespon terhadap frekuensi berbeda. Kurva ini ditemukan dengan memproses data statistik. Suatu subset populasi dipapar terhadap serangkaian suara yang dihasilkan dalam ruangan anechoic. Ruangan anechoic dirancang untuk mengurangi pantulan sebanyak mungkin agar suara yang didengar hanyalah suara langsung. Kurva ini mengindikasikan bagaimana telinga manusia bereaksi berbeda terhadap frekuensi berbeda, dalam hubungannya dengan intensitas dari suara yang dipersepsi. Kita asumsikan suatu sumber suara yang menghasilkan gelombang sinusoid yang memiliki frekuensi variabel pada amplitudo yang konstan. Ketika suara memiliki amplitudo 80 dB SPL, pendengar mengindera frekuensi rendah sebagai suara dengan volume yang sangat rendah dan ketika frekuensi dinaikkan pendengar mengindera peningkatan dalam volume (meskipun suara yang dihasilkan tetap berada pada 80 dB SPL). Tingkah laku ini terjadi karena telinga manusia mengindera intensitas suar a berbeda-beda pada frekuensi yang berubah. Kurva isofonik mengindikasikan tingkat dBspl yang dibutuhkan untuk mempersepsi suara pada volume yang sama sepanjang kurva. Frekuensi referensi untuk setiap kurva adalah 1 kHz, dan pada frekuensi ini nilai dBspl sama dengan nilai yang mengidentifikasikan suatu kurva, dandisebut phone. Sebagai contoh, kurva isofonik 40-phone adalah kurva yang memiliki amplitudo 40 dB SPL pada 1 kHz. Kurva isofonik diberikan dalam gambar berikut:


Gambar 2.4 Kurva isofonik

Sebagai contoh kita melihat kurva 80 phone dan mengikutinya dari frekuensi rendah hingga tinggi. Pada 20 Hz terlihat bahwa perlu dihasilkan tekanan suara sebesar 118 dB SPL. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana telinga manusia kurang sensitif terhadap frekuensi rendah. Ketika kurva diamati mengikuti frekuensi tingginya dapat dilihat agar telinga mempersepsi volume yang sama dibutuhkan tekanan suara yang lebih rendah. Pada 1 kHz terlihat nilai referensi kurva isofonik yang kita gunakan, yaitu 80 dB SPL. Lebih dari nilai ini dapat dilihat terjadi nilai minimum pada 3 kHz, dan agar telinga mempersepsi tingkat suara yang sama sinyal 3 kHz tersebut harus memiliki tekanan 70 dB SPL. Ketika nilai ini dibandingkan dengan nilai pada frekuensi 20 Hz dapat dilihat ada perbedaan sebesar 50 dBspl, jumlah yang besar dalam istilah suara. Nilai minimum ini dikarenakan frekuensi resonansi kanal telinga bernilai 3 kHz sehingga frekuensi ini sudah terdengar pada tingkat dB SPL yang rendah.. Diatas 3 kHz kurva kembali meningkat menunjukkan tingkat dB SPL yang dibutuhkan untuk mempersepsi suara dengan volume yang sama pada frekuensi yang tinggi. Setiap kurva mengidentifikasikan nilai phone yang terpisah sesuai dengan perubahan pada tingkah laku telinga manusia ketika tingkat tekanan suara berubah. Dapat dilihat juga pada tingkat tekanan suara yang tinggi, kurva isofonik hampir rata.

Tip:

Kendali volume pada sistem home amplifier diregulasi oleh laju kurva ini. Ketika volume sangat rendah, aktivasi kekerasan amplifier menyebabkan peningkatan pada frekuensi rendah, menyamai amplitudo frekuensi yang lain. Penyamaan ini terjadi secara alamiah pada telinga pada volume yang tinggi, sehingga mengaktivasi kekerasan tidak akan berpengaruh.

2.8.1 Deskripsi kurva isofonik

2.8.1.1 Ambang batas pendengaran (0 phone)

Kurva isofonik yang paling rendah disebut ambang batas audibilitas (pendengaran) dan mengindikasi perubahan tekanan terkecil yang bisa dideteksi telinga pada frekuensi yang berbeda. Penting untuk mengingat kurva-kurva ini berdasarkan data statistik sehingga nilai referensi ini bisa berubah untuk setiap orang. Beberapa nilai referensi berdasarkan kurva ini bisa berguna untuk kepraktisan.

Tabel 2.1. Beberapa nilai referensi untuk kurva ambang batas pendengaran

Zona Frekuensi

Hz

dBspl

Referensi

1000

5

Frekuensi rendah

50

42

Frekuensi tinggi

10000

15

2.8.1.2 Ambang batas rasa sakit (140 phone)

Tekanan suara dengan nilai diatas kurva 140 phone dipersepsi sebagai rasa sakit nyata oleh telinga dan bisa menyebabkan kerusakan ireversibel bila terpapar dalam waktu yang lama.

Volume mixdown yang ideal adalah sekitar 80-90 phone. Pada nilai ini volume frekuensi cukup seimbang. Bila mixdown dilakukan pada volume yang terlalu rendah, misal 40 phone, kita akan mendengar frekuensi rendah yang lebih sedikit dan tergoda untuk menambahkannya menggunakan ekualisasi. Namun, ketika didengar kembali pada 80 phone, terdengar terlalu banyak frekuensi rendah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s