7.1 Reverb

Reverb atau gema adalah suara yang bertahan dalam suatu lingkungan setelah sinyal langsungnya sudah padam. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, kita mengambil contoh makroskopik: suara tembakan dalam sebuah katedral. Contoh ini memang merupakan kejadian nyata yang langka, tetapi merupakan contoh yang ideal untuk memahami suara. Setelah suara tembakan (suara yang disebabkan pistol adalah ledakan yang pendek), suara bergema selama beberapa detik dan kemudian padam perlahan-lahan. Gema yang memudar ini sebenarnya adalah suara asli yang memantul dari permukaan-permukaan yang ditemuinya. Kita telah melihat, dalam refleksi, sebagian dari energi diserap dan sisanya dipantulkan. Jadi, pada setiap pantulan, gelombang kehilangan sebagian energi hingga memudar sama sekali.

Reverb mengikuti aturan yang sangat spesifik, yang diringkas dalam diagram berikut:

Gambar 7.1 Tingkah laku suara reverb

Diagram memperlihatkan amplitudo dari berbagai pantulan dan instan waktu pantulan-pantulan itu terjadi. Suara pertama yang sampai ke pendengar adalah sinyal langsung, yaitu suara yang menempuh jalur terpendek. Setelah henti sejenak yang disebut pre-delay, early reflections atau pantulan awal tiba, yaitu suara yang telah memantul dari satu permukaan saja dalam perjalanannya mencapai telinga pendengar. Terakhir, late reflections atau pantulan akhir tiba, yaitu suara yang memantul dari lebih dari satu permukaan. Karena pantulan akhir tiba dengan saling tumpah-tindih, maka dihasilkan suara yang kontinyu, dan juga karena pantulan akhir ini sangat berdekatan satu sama lain maka disebut dengan reverb cluster.

Untuk mereproduksi tingkah laku yang sama, teknik-teknik yang kreatif diimplementasikan di masa lalu. Sekarang kita akan melihat teknik-teknik ini, yang masih disimulasikan oleh modul reverb digital modern.

Spring reverb: untuk mensimulasi efek reverb, digunakan sebuah per dalam sebuah rongga. Dua transduser dipasang pada ujung-ujungnya, yang saling bergantian mentransfer sinyal suara ke per tersebut. Mikrofon digunakan untuk menangkap suara yang dihasilkan. Teknik ini bukanlah teknik yang amat realistis; spring revern digunakan dalam beberapa amplifier gitar, dan jarang digunakan untuk vokal. Modul digital yang menggunakan reverb tipe ini bisa digunakan untuk mendapatkan suara gitar tahun 60an.

Plate Reverb: dua transduser dipasang pada piringan yang digantung secara vertikal, satu memberikan sinyal input, dan satunya lagi menangkap getaran yang dihasilkan. Untuk memvariasikan karakteristik efek, kedua transduser bisa dipasang pada titik-titik yang berbeda. Teknik ini menawarkan hasil yang lebih realistis dibandingkan spring reverb, khususnya pada frekuensi tinggi.

Chamber reverb: sumber suara ditempatkan di dalam ruangan yang dindingnya memiliki kualitas pantulan tertentu. Suara yang dihasilkan ruangan ditangkap menggunakan mikrofon. Kelemahan teknik ini adalah keterbatasannya dikarenakan tidak mudah memindahkan chamber.

Hampir semua generasi terakhir peralatan reverb menggunakan teknologi digital dan memanfaatkan algoritme simulasi yang sangat kompleks (yang semakin mudah diakses akibat kemajuan kemampuan pemrosesan komputer). Berikut adalah daftar kendali utama yang tersedia pada unit reverb digital:

Pre-delay: mengendalikan waktu pre-delay.

Early reflection: mengendalikan panjang dari pantulan awal.

Decay: durasi decay reverb cluster.

Mix: persentase antara dry dan wet signal reverb.

Room dimension (dimensi ruangan):seringkali nilai merujuk kepada bentuk dan dimensi lingkungan (hall atau aula, room atau ruangan, chamber, cathedral atau katedral, spring/plate).

HF Ratio (rasio frekuensi tinggi): frekuensi tinggi merupakan frekuensi yang pertama kali teratenuasi ketika terjadi pantulan. Kendali ini memungkinkan kita untuk mensimulasi kemampuan serapan permukaan-permukaan tertentu.

Stereo width (kelebaran stereo): melebarkan atau menajamkan stereo image (citra stereo) dari reverb.

Beberapa unit juga menyediakan fasilitas untuk menset waktu decay yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s