7.3 Phaser

Efek ini mengkombinasikan sinyal original dengan sinyal delaynya, dimana waktu delay mengalami modulasi (ini berarti waktu delay berubah secara konstan dan laju perubahannya ditentukan suatu fungsi, misal sinusoid). Mari kita lihat apa yang terjadi dalam situasi ini dengan mengambil contoh sinyal sinusoid:

Gambar 7.2 Sinusoid dengan kesenjangan fase

Bentuk gelombang di sebelah atas merupakan sinyal original yang kita asumsikan dibentuk dari sebuah sinusoid dan harmonik keduanya. Gelombang kedua mirip dengan yang pertama tetapi memiliki delay variabel yang bernilai setengah semi-gelombang pada puncaknya. Sekarang kita bayangkan gelombang kedua berosilasi pada axis horizontal antara 0 dan posisinya pada diagram. Ketika berada di 0, kedua gelombang memiliki keseragaman fase dan menghasilkan penguatan semua frekuensi komponen sinyal. Ketika berada pada posisi delaynya (seperti pada gambar), kita melihat bagaimana harmonik pertama (atau fundamental) terbatalkan dan harmonik kedua diperkuat. Jadi, kandungan frekuensi sinyal original telah mengalami perubahan. Semua posisi intermediat berlaku dengan cara yang berbeda, baik pada harmonik pertama maupun kedua.

Kesimpulan: efek phasing dihasilkan dengan menjumlahkan kepada sinyal original sebuah kopi sinyal yang didelay, dimana waktu delay dimodulasi oleh gelombang tertentu (seandainya delay tidak dimodulasi maka kita mendapatkan perubahan yang statis dari kandungan frekuensi sinyal original. Dengan adanya modulasi ini, efek yang dihasilkan lebih menarik).

Kita bisa mensimulasi efek phaser dengan menggunakan dua mikrofon untuk menangkap satu sumber sinyal. Dengan memasang satu mikrofon diam di tempat, dan menggerakkan yang satunya lagi maju dan mundur secara teratur terhadap sumber suara, maka dihasilkan dua kopi dari satu suara yang sama: satu kopi ter-delay dari yang satunya lagi. Gerakan maju-mundur mikrofon kedua mensimulasikan modulasi waktu delay.

Gambar 7.3 Phaser

Kita bisa melihat bagaimana sinyal input dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama sampai ke output tanpa mengalami perubahan, sedangkan bagian kedua dilewatkan melalui delay kemudian dimix dengan sinyal input. Waktu delay dikendalikan oleh LFO (Low Frequency Oscillator). LFO ini terdiri dari sebuah osilator yang menghasilkan gelombang frekuensi rendah, umumnya sinusoid pada 1 Hz atau bahkan kurang. Osilator ini biasanya digunakan untuk mengendalikan parameter efek yang lain, seperti dalam kasus ini, dimana LFO memodulasi waktu delay antara kedua sinyal (sebagai contoh, jika kita modulasi dengan sinusoid 1 Hz, kedua sinyal bersamaan fasenya setiap detik). Kita dapat melihat bagaimana satu bagian dari sinyal yang dialihkan ke output diambil dan dikirim kembali ke input. Metode ini digunakan pada berbagai efek lainnya untuk mengamplifikasi efek lebih lanjut.

Berikut adalah tipikal kendali suatu phaser:

Rate (laju): laju perubahan waktu delay (frekuensi modulator LFO).

Mix: menggabungkan sinyal original dengan sinyal yang dimanipulasi.

Feedback: mengendalikan jumlah phasing yang diterapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s