Category Archives: Uncategorized

10.12 Kuantitas Elektrik Spesifik Mikrofon

Karakteristik mikrofon dikuantifikasi oleh serangkaian unit elektrik yang mendeskripsikan perilakunya.

10.12.1 Suara bising sendiri

Suara bising sendiri (atau self noise) dihasilkan komponen elektrik di dalam mikrofon. Rangkaian yang terdapat di dalam mikrofon kondenser lebih besar daripada di dalam mikrofon elektrodinamik, sehingga insiden suara termal lebih besar di mikrofon kondenser karena sinyal yang dihasilkan memiliki intensitas jauh lebih inferior terhadap mikrofon elektrodinamik. Suara bising sendiri dari mikrofon diukur dalam satuan dB.

10.12.2 Distorsi

Diukur dalam persentase THD (Distortion dan Total Harmonic Distortion) untuk nilai dB SPL tertentu. Sebagai contoh:

THD = 0.002% pada 140 dB SPL

10.12.3 Sensitivitas

Sensitivitas adalah kemampuan mikrofon mengkonversi gelombang akustik (diukur dalam Pascal, Pa) menjadi sinyal elektrik (diukur dalam Volt, V) secara akurat. Sensitivitas diukur dalam mV/Pa.

Nilai umum untuk sensitivitas adalah:

Mikrofon dinamik: 1 – 10 mV/Pa

Mikrofon kondenser: 5 – 20 mV/Pa

Iklan

10.5 Pola Polar Mikrofon

Sejauh ini kita telah menyelidiki berbagai metode suara dikonversi menjadi sinyal elektrik. Sekarang saatnya menganalisa kriteria konstruksi yang berbeda untuk mikrofon, yang bisa digunakan untuk mendapatkan karakteristik direksional yang berbeda. Serangkaian teknik konstruksi telah dirancang yang mengizinkan sensitivitas mikrofon fokus terhadap satu atau lebih arah spesifik. Hal ini membuka sedunia kemungkinan untuk teknik mikrofon, yang akan kita jelajahi di bagian berikutnya.

Laju sensitivitas dalam relasinya terhadap arah sumber suara diilustrasikan dalam grafik yang disebut polar pattern (pola polar). Dalam diagram berikut kita melihat pola polar popular dan nama-namanya. Pusat merepresentasikan mikrofon dengan diafragmanya, sedangkan sekelilingnya adalah nilai sensitivitas untuk setiap perubahan dalam arah. Arah diukur dalam derajat: 0 derajat adalah titik tetap di depan diafragma, dan 180 derajat mengindikasikan posisi berlawanan di belakang mikrofon. Setiap cincin konsentrik, dimulai dari yang paling luar, mengindikasikan reduksi 5 dB (sebagai contoh, di diagram (b), diagram kardioid, terjadi reduksi 5 dB untuk suara yang berasal dari arah dengan kemiringan 45 derajat terhadap arah pusat):

Gambar 10.5 Pola Polar

Sekarang kita deskripsi singkat setiap diagram:

Sirkular: mikrofon secara seragam sensitif ke seluruh arah. Suara direproduksi dengan keakuratan yang sama tanpa menghiraukan arah sumber suara (setidaknya dalam teori, karena diagram sirkular sempurna mustahil untuk didapatkan murni karena keterbatasan fisik).

Kardioid:: nama kardioid berasal dari garis diagram yang berbentuk jantung. Dalam konfigurasi kardioid, suara yang berasal belakang mikrofon tidak tertangkap, atau lebih tepatnya diatenuasi secara drastik.

Figure of 8 (Angka 8): mikrofon dengan pola polar angka 8 lebih baik menangkap suara dari depan dan belakang, tetapi memiliki sensitivitas rendah terhadap suara yang berasal dari arah sisi-sisi.

Super-kardioid: sama seperti diagram kardioid tetapi dengan karakteristik direksional yang lebih tajam. Namun, untuk memperketat pola sisi depan terjadi penonjolan tak terhindar lingkaran kecil di daerah belakang. Hal ini mengakibatkan peningkatan rendah sensitivitas terhadap suara yang berasal dari belakang mikrofon.

Hiper-kardioid: seperti super-kardioid tetapi dengan karakteristik direksional yang lebih teraksen. Perhatikan keberadaan lingkaran belakang yang lebih besar.

Shotgun (Senapan berburu): namanya berasal dari tipe mikrofon yang terasosiasi dengan diagram ini, yang akan dibahas di bagian berikutnya.

Pada diagram berikut, kita melihat perspektif tiga dimesi pola polar yang telah disebut di atas:

Gambar 10.6 Pola Polar 3D