Tag Archives: kardioid

10.15 Teknik Mikrofon Koinsiden Dekat

Teknik ini menggunakan dua mikrofon diposisikan 16 – 17 cm terpisah, sesuai dengan jarak antara kedua telinga manusia. Teknik ini, selain merekam perbedaan amplitudo, juga merekam perbedaan fase antara kedua sinyal. Hal ini meningkat performa efek stereo, tetapi sekaligus mengancam kompatibilitas mono.

10.15.1 Teknik ORTF (Organization Radio Television Francaise)

Teknik yang berasal dari Perancis ini menggunakan dua mikrofon kondenser dengan pola polar kardioid pada jarak 17 cm satu sama lain dan sudut 110 derajat.

Gambar 10.19 Posisi ORTF

Jika sumber suara yang ingin direkam luas, mikrofon dapat diposisikan dengan jarak 20 cm dan sudut 90 derajat.

10.15.2 Teknik NOS

Nederlandse Omroep Stichting (Dutch Radiotelevision Foundation). Teknik dari Belanda, menggunakan dua mikrofon kardioid yang diposisikan 30 cm terpisah dan sudut 90 derajat.

10.15.3 Teknik OSS – Optimum Stereo Sound

Dikembangkan di Switzerland. Dua mikrofon omnidireksional digunakan, terpisah 17 cm dan sudut 90 derajat. Antara kedua mikrofon, sebuah Jacklin Disc ditempatkan, yang mensimulasi kehadiran kepala manusia.

Iklan

10.13 Teknik Mikrofon Stereo

Teknik-teknik ini bertujuan mereproduksi medan suara stereo, sehingga menggunakan dua atau lebih mikrofon dengan peletakan yang tepat. Teknik-teknik ini dibagi menjadi tiga kelompok: mikrofon koinsiden, mikrofon berdekatan, dan mikrofon berjauhan, masing-masing memiliki karakteristik beserta keunggulan dan kelemahan, sebagai berikut:

10.14.1 Mikrofon koinsiden

Mikrofon koinsiden (coincident microphones) menggunakan dua mikrofon yang diposisikan pada tempat yang sama. Pola ini merekam perbedaan amplitudo tetapi tidak perbedaan fase antara dua mikrofon karena suara tiba pada kedua diafragma pada saat yang bersamaan. Karakteristik tersebut menjadikan teknik ini kompatibel untuk mono sehingga ideal untuk pekerjaan radio dan televisi.

10.14.2 Teknik Blumlein

Dua mikrofon dengan pola polar angka 8 digunakan dan diposisikan seperti dalam diagram:

Gambar 10.15 Teknik Blumlein

Efektivitas teknik stereo ini berdasarkan kehadiran pantulan yang ditangkap lingkaran posterior kedua mikrofon.

Sudut antara dua diafragma ditetapkan pada 90 derajat. Mikrofon pertama menunjuk ke sisi kiri medan suara dan distimulasi pantulan dari sisi kanan. Hal yang sebaliknya terjadi dengan mikrofon 2. Teknik ini efektif di lingkungan dengan akustik yang bagus, dimana kehadiran pantulan menjadi faktor penentu dalam pewarnaan suara. Pada mixer, kedua suara dipertahankan terpisah dan dialirkan langsung ke output.

10.14.3 Teknik XY

Teknik ini melibatkan dua mikrofon kondenser dengan pola polar kardioid pada sudut antara 90 hingga 110 derajat (sudut yang lebih besar dapat menghasilkan lubang di medan suara stereo).

Gambar 10.16 Teknik XY

Pada mixer kedua sinyal dipertahankan terpisah dan dialirkan langsung ke output.

10.14.4 Teknik MS – Mid Side

Teknik ini melibatkan dua mikrofon, satu dengan pola polar kardioid dan satu angka 8, diposisikan seperti berikut:

10.17 Teknik Mid Side

Mikrofon kardioid mereproduksi sinyal yang datang dari depan, sementara angka 8 mereproduksi sinyal dari sisi-sisi. Untuk membaca sandi sinyal di mixer, skema berikut digunakan:

Gambar 10.18 Membaca sandi sinyal Mid Side

Sinyal tengah direproduksi persis apa adanya, sementara sinyal dari mikrofon angka 8 dipisah menjadi dua. Satu bagian dikirim ke loudspeaker kiri dan satu bagian lagi dibalik fasenya dan dikirim ke loudspeaker kanan, setelah keduanya diatenuasi sebesar 3 dB (untuk mengkompensasi sinyal yang dipisah dua). Kompatibilitas mono dijamin fakta bahwa menggabungkan kedua sinyal, sinyal dari mikrofon angka 8 saling meniadakan.

Amplitudo medan suara dikendalikan oleh kendali panpot yang bekerja pada sinyal kedua sisi.

10.9 Mikrofon Kondenser Diafragma Dua

Mikrofon jenis ini sangat ampuh. Mikrofon jenis ini memungkinkan modifikasi karakteristik masing-masing diafragma untuk mendapatkan pola polar dengan karakteristik yang kita inginkan melalui kombinasi keduanya. Pada dasarnya, terdapat dua diafragma yang saling berhadapan, dan rangkaian yang menjadi sumber dayanya yang dikendalikan oleh saklar berdesain khusus. Kita lihat konfigurasi yang mungkin:

Omnidireksional

Gambar 10.9 Konfigurasi omnidireksional

Diafragma masing-masing memiliki pola polar dan polaritas yang sama.

Figur 8

Gambar 10.10 Konfigurasi figur 8

Diafragma memiliki pola polar yang sama tetapi polaritas yang berbeda. Hal ini menjamin suara yang berasal dari sisi-sisi dibatalkan karena menghasilkan sinyal yang berbeda fase.

Kardioid

Gambar 10.11 Konfigurasi kardioid

Dalam kasus ini kedua diafragma kardioid berbeda fase dan sinyal yang berasal dari salah satu teratenuasi. Bergantung kepada derajat atenuasi kita bisa menghasilkan gradasi diafragma yang berbeda, dari kardioid hingga hiperkardioid.

10.7 Mikrofon Unidireksional

Mikrofon tipe ini memiliki pola polar kardioid. Skema berikut menunjukkan konstruksinya:

Gambar 10.6 Diagram internal mikrofon kardioid

Dibelakang diafragma ada jaringan tunda akustik yang bertugas menunda suara yang berasal dari belakang. Suara dari belakang menstimulasi diafragma, seperti pada kasus mikrofon omnidireksional. Namun, karena lubang samping yang kecil, suara yang sama menembus bagian belakang mikrofon dan berpapasan dengan jaringan tunda yang mengantar suara turun melalui berbagai jalur yang berbeda sehingga menunda kedatangannya di diafragma. Ketika suara tertunda mencapai diafragma, suara mengalami inversi fase dalam hubungannya terhadap suara yang – karena difraksi – mencapai bagian depan mikrofon. Situasi ini menghasilkan penetralan dua suara, eksternal dan internal yang telah tertunda ketika masing-masing tiba di diafragma secara berbeda fase. Dengan cara ini suara dari belakang tereliminasi atau diatenuasi dengan drastis. Jaringan tunda yang sama juga bekerja terhadap suara dari depan: sebagian suara menstimulasi diafragma secara langsung, sedangkan sebagian lain menembus lubang samping dan tiba di diafragma dalam fase setelah melalui jaringan tunda. Hal ini memastikan kedua sinyal saling menambah, menjamin reproduksi setia sinyal frontal yang diperkuat.

Dalam kasus mikrofon kondenser, kehadiran plat posterior menghambat suara mencapai diafragma depan melalui jaringan tunda akustik sehingga teknik yang berbeda digunakan.

Kondenser lain dengan diafragma posterior terpasang ditambahkan. Pada output, sinyal yang berasal dari kondenser posterior terinversi fasenya dan ditambah ke sinyal anterior. Hal ini memungkinkan suara posterior dibatalkan dan anterior diperkuat.

Kita telah melihat bagaimana semakin mengerucut bentuk kardioid semakin terjadi penimbulan lingkaran posterior. Hal ini karena fakta bahwa jaringan tunda tidak bisa membatalkan dengan benar suara yang berasal dari arah dengan sudut yang terlalu kecil terhadap arah pusat.