Tag Archives: lfo

7.13 Kompresor

Kompresor adalah prosesor yang paling penting. Kompresor bekerja pada rentang dinamika sinyal input dan mengurangi amplitudonya ketika sinyal input melebihi batas tertentu. Pengurangan ini diekspresikan dengan rasio; seperti rasio 3:1 yang berarti ketika sinyal melebihi batas tertentu, bagian sinyal yang berada di atasnya dikurangi menjadi 1/3.

Gambar 7.10 Rentang dinamika normal dan rentang dinamika kompresi

Di sebelah kiri gambar di atas terdapat sinyal input sebelum kompresi. Amplitudo referensi diukur dalam dBu dan rentang dinamika penuh sinyal sebesar 50 dB. Diagram juga menunjukkan ambang batas dimana kompresor mulai bekerja. Di sebelah kanan diagram adalah hasil kompresi 3:1. Bagian sinyal dibawah ambang batas tidak berubah sementara bagian sinyal diatas telah dikurangi menjadi 1/3, sehingga berubah dari 30 dB menjadi 10 dB. Rentang dinamika keseluruhan sinyal telah dikurangi dari 50 dB menjadi 30 dB.

Berikut adalah penjelasan detail parameter kendali pada kompresor:

Threshold (ambang batas): adalah nilai terukur dalam dB dan merupakan batas dimana kompresor mulai bekerja

Ratio (rasio): mengkuantifikasi reduksi pada amplitudo sinyal diatas ambang batas. Nilai rasio yang umum termasuk:

1:1 – tidak ada kompresi, sinyal output sama dengan input

2:1 – sinyal diatas ambang batas dikurangi setengah. Jika sinyal melebihi batas sebesar 10 dB, nilainya tereduksi menjadi 5 dB.

Nilai lain termasuk 3:1, 4:1, dst. Untuk nilai rasio lebih tinggi dari 10:1, kompresor bertindak sepert limiter.

Gambar berikutnya menunjukkan diagram kurva kompresi untuk berbagai nilai rasio:

Gambar 7.11 Kurva kompresi

Diagram memperlihatkan amplitudo sinyal output terhadap sinyal input. Hingga ambang batas, amplitudo sinyal sama dengan sinyal input. Diatas ambang batas, kompresi terjadi sesuai dengan rasio yang digunakan.

Attack time (waktu serang): mengindikasi waktu yang dibutuhkan kompresor untuk teraktivasi setelah sinyal melewati batas. Terukur dalam milisekon. Diagram berikutnya membandingkan dua keadaan, waktu attack panjang dan waktu attack singkat:

Gambar 7.12 Attack time kompresor

Waktu attack panjang berarti sinyal melebihi ambang batas, tetapi tidak terkompresi hingga waktu attack telah lewat. Setelah lewat waktu attack, kompresor mereduksi amplitudo sinyal: sehingga bagian awal dari suara lebih nyaring.

Suatu kick drum yang envelope suaranya memiliki bentuk yang diberi label warna hijau:

Gambar 7.13 Kompresor dan ADSR envelope

Dengan kompresi, envelope berubah menjadi yang diberi label merah. Bagian attack kick drum menjadi sangat menonjol, sehingga terdengar lebih tajam.

Dua contoh berlawanan suara kick drum ditemukan di musik techno dan jazz. Dalam musik techno, suara kick drum harus tajam, kering, agresif, sehingga dibutuhkan kompresi yang tinggi (4:1) dengan waktu attack pelan (100 ms). Dalam musik jazz suara kick drum serupa instrumen asli, memiliki ekor suara yang panjang seperti booming. Dalam kasus ini dibutuhkan kompresi rasio lebih ringan (2:1) dan waktu attack singkat (10 ms) untuk menangkap keseluruhan envelope suara. Dikarenakan keterbatasan fisik, adalah mustahil menghasilkan kompresor analog dengan waktu attack yang singkat atau tidak ada sama sekali. Rangkaian atau sirkuit secara alamiah memiliki waktu reaksi yang berubah seiring berubahnya sinyal. Waktu attack nol bisa disimulasikan pada sinyal sample yang disimpan dalam RAM: dalam kasus ini kompresor sudah tahu keseluruhan laju sinyalnya, sehingga bisa bekerja dengan waktu attack nol, meski tidak secara real-time.

Release time (waktu lepas): adalah waktu yang dibutuhkan kompresor kembali ke ketiadaan kompresi setelah sinyal input kembali ke bawah ambang batas, atau rasio 1:1. Tujuannya adalah memperhalus aksi kompresor.

Hold time (waktu tahan): setelah amplitudo sinyal input kembali ke bawah ambang batas, kompresor mereduksi aksinya selama waktu release hingga mencapai rasio kompresi 1:1. Waktu hold memungkinkan waktu release ditunda setelah sinyal kembali ke bawah ambang batas, sehingga kompresor tetap aktif untuk waktu yang lebih lama.

Diagram berikut memperlihatkan aksi keseluruhan dari kompresor:

Gambar 7.14 Kompresor beraksi

Untuk memahami kompresor lebih baik, amatilah aksinya pada ADSR envelope. Pada gambar berikut, terlihat envelope kick drum asli dan setelah kompresi. Perbandingan antara kedua gambar memperlihatkan pengaruh kompresi dengan jelas.

Gambar 7.15 Kick drum

Gambar 7.16 Kick drum terkompresi

7.14.1 Sidechain input – key input

Rangkain kompresor adalah VCA (voltage-controlled amplifier, atau amplifier yang dikendalikan voltase), dimana sinyal input adalah voltase pengendali. Ketika voltase sinyal input melebihi ambang batas, kompresor menyala. Voltase pengendali bisa berupa sinyal selain sinyal input, sehingga memungkinkan beberapa teknik yang menarik.

Suatu kick drum dan gitar bass dimainkan bersamaan (hal ini sering terjadi untuk membuat rhythm yang rapi). Pada ketukan genap (ketukan 1 dan 3 pada musik 4/4), frekuensinya yang serupa mengakibatkan kick drum dan bass sering bercampur aduk. Cara membuat suara kick drum menonjol adalah dengan mengkompresi kick drum menggunakan rasio yang tinggi dan waktu attack pelan untuk menekankan bagian attack kick drum, atau “punch”nya. Kemudian gitar bass dikompresi menggunakan kompresor yang menggunakan sinyal kick drum sebagai sidechain input. Kombinasi ini mengakibatkan suara gitar bass menjadi lebih rendah ketika kick drum ditekan, sehingga suara kick lebih menonjol. Setelah attack, kompresor memasuki tahap release, yang berarti suara bass naik perlahan: ketika suara bass drum pudar, kompresor berhenti bekerja dan suara gitar bass kembali ke level aslinya.

Contoh lain penggunaan sidechain input adalah penggunaan LFO, sehingga menciptakan efek tremolo pada sinyal yang melalui kompresor.

7.14.2 Kurva kompresi

Bentuk kurva kompresi berubah seiring perbedaan rasio. Kurva tipe ini disebut hard knee, ditandai oleh perubahan laju gain yang cepat. Mode lain disebut soft knee memiliki perubahan laju lebih lembut dan memperhalus kerja kompresor. Berikut adalah dua mode kurva kompresi:

Gambar 7.17 Kurva kompresi hard knee dan soft knee

7.14.3 Respon kompresor terhadap sinyal input

Kompresor bekerja pada sinyal bergantung kepada laju sinyal menurut dua cara berikut:

Peak: kompresor merespon terhadap peak sinyal sehingga mengukur dengan persis amplitudo voltase input.

RMS: kompresor berespon terhadap RMS (Root Mean Square) sinyal, dengan kata lain nilai efektifnya, sehingga memperhalus aksinya.

7.14.4 Kompresor titik rotasi

Untuk alat tipe ini, ketika tidak ada kompresi, kurva kompresi berbentuk garis lurus unity gain. Ketika kurva kompresi diputar, diatas ambang batas kompresi terjadi dan dibawah ambang batas sinyal terekspansi (amplifikasi):

Gambar 7.18 Kompresor titik rotasi

7.14.5 Multiband compressor

Alat ini membagi sinyal menjadi beberapa band frekuensi dan mengaplikasikan kompresi yang berbeda pada setiap bandnya. Modul termasuk sirkuit crossover yang membagi sinyal menjadi band terpisah sebelum kompresi. Setiap output kompresor dikirim ke kompresor yang berbeda, masing-masing memiliki kontrolnya sendiri.

Dengan kompresor multiband, kompresi bisa dilakukan lebih teliti. Secara umum, sinyal frekuensi tinggi dikompresi dengan waktu attack cepat dan release panjang. Hal ini memastikan kompresi mengikuti karakteristik sinyal input lebih tepat.

Gambar 7.19 Multiband compressor

Iklan

7.8 Vibrato

Vibrato mengaplikasikan modulasi tone (frekuensi) kepada sinyal input. Dalam kasus ini, sebuah LFO memodulasi frekuensi dari sinyal.

7.7 Tremolo

Tremolo menerapkan modulasi amplitudo kepada sinyal input. Frekuensi LFO mengendalikan kecepatan modulasi amplitudo sinyal.

7.4 Flanger

Flanger menambahkan efek phasing dengan cara menambahkan pitch shifter. Dengan kata lain, sebuah rangkaian yang mampu meningkatkan atau mengurangi tonalitas dari sinyal (contoh klasik pitch shift adalah ketika kita mempercepat atau memperlambat laju pita magnetik; pada masa-masa awal, efek ini diciptakan melalui penggunaan alat perekam analog). Sebagai contoh fenomena ini, kita umpamakan sebuah sinusoid pada frekuensi tertentu yang direkam pada pita magnetik. Dengan meningkatkan kecepatan pita kita akan melihat bahwa sinusoid tereproduksi dengan lebih cepat, yang artinya frekuensi sinusoid meningkat. Gambar berikut menunjukkan skema sebuah flanger:

Gambar 7.4 Flanger

Kita dapat melihat bagaimana LFO mempengaruhi modul delay dan pitch shifter.

7.3 Phaser

Efek ini mengkombinasikan sinyal original dengan sinyal delaynya, dimana waktu delay mengalami modulasi (ini berarti waktu delay berubah secara konstan dan laju perubahannya ditentukan suatu fungsi, misal sinusoid). Mari kita lihat apa yang terjadi dalam situasi ini dengan mengambil contoh sinyal sinusoid:

Gambar 7.2 Sinusoid dengan kesenjangan fase

Bentuk gelombang di sebelah atas merupakan sinyal original yang kita asumsikan dibentuk dari sebuah sinusoid dan harmonik keduanya. Gelombang kedua mirip dengan yang pertama tetapi memiliki delay variabel yang bernilai setengah semi-gelombang pada puncaknya. Sekarang kita bayangkan gelombang kedua berosilasi pada axis horizontal antara 0 dan posisinya pada diagram. Ketika berada di 0, kedua gelombang memiliki keseragaman fase dan menghasilkan penguatan semua frekuensi komponen sinyal. Ketika berada pada posisi delaynya (seperti pada gambar), kita melihat bagaimana harmonik pertama (atau fundamental) terbatalkan dan harmonik kedua diperkuat. Jadi, kandungan frekuensi sinyal original telah mengalami perubahan. Semua posisi intermediat berlaku dengan cara yang berbeda, baik pada harmonik pertama maupun kedua.

Kesimpulan: efek phasing dihasilkan dengan menjumlahkan kepada sinyal original sebuah kopi sinyal yang didelay, dimana waktu delay dimodulasi oleh gelombang tertentu (seandainya delay tidak dimodulasi maka kita mendapatkan perubahan yang statis dari kandungan frekuensi sinyal original. Dengan adanya modulasi ini, efek yang dihasilkan lebih menarik).

Kita bisa mensimulasi efek phaser dengan menggunakan dua mikrofon untuk menangkap satu sumber sinyal. Dengan memasang satu mikrofon diam di tempat, dan menggerakkan yang satunya lagi maju dan mundur secara teratur terhadap sumber suara, maka dihasilkan dua kopi dari satu suara yang sama: satu kopi ter-delay dari yang satunya lagi. Gerakan maju-mundur mikrofon kedua mensimulasikan modulasi waktu delay.

Gambar 7.3 Phaser

Kita bisa melihat bagaimana sinyal input dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama sampai ke output tanpa mengalami perubahan, sedangkan bagian kedua dilewatkan melalui delay kemudian dimix dengan sinyal input. Waktu delay dikendalikan oleh LFO (Low Frequency Oscillator). LFO ini terdiri dari sebuah osilator yang menghasilkan gelombang frekuensi rendah, umumnya sinusoid pada 1 Hz atau bahkan kurang. Osilator ini biasanya digunakan untuk mengendalikan parameter efek yang lain, seperti dalam kasus ini, dimana LFO memodulasi waktu delay antara kedua sinyal (sebagai contoh, jika kita modulasi dengan sinusoid 1 Hz, kedua sinyal bersamaan fasenya setiap detik). Kita dapat melihat bagaimana satu bagian dari sinyal yang dialihkan ke output diambil dan dikirim kembali ke input. Metode ini digunakan pada berbagai efek lainnya untuk mengamplifikasi efek lebih lanjut.

Berikut adalah tipikal kendali suatu phaser:

Rate (laju): laju perubahan waktu delay (frekuensi modulator LFO).

Mix: menggabungkan sinyal original dengan sinyal yang dimanipulasi.

Feedback: mengendalikan jumlah phasing yang diterapkan.