Tag Archives: Woofer

9.11 Difusor

Setiap macam loudspeaker spesialisasi dalam rentang frekuensi tertentu, sehingga untuk mereproduksi keseluruhan spektrum suara yang bisa didengar (20 Hz – 20 kHz) dibutuhkan lebih dari satu loudspeaker pada satu waktu. Namun sinyal suara juga perlu difilter sebelum mencapai loudspeaker agar setiap loudspeaker hanya menerima sinyal yang bisa diprosesnya. Hal ini dilakukan menggunakan low-pass, band-pass, dan high-pass filter yang tergabung dalam satu rangkaian listrik disebut crossover.

9.11.1 Crossover

Crossover terdiri dari filter yang membagi sinyal yang masuk menjadi beberapa sinyal yang masing-masing meliputi rentang frekuensi tertentu. Sebagai contoh, 3-way crossover menghasilkan tiga sinyal: satu mengandung frekuensi rendah yang dikirim ke woofer, satu mengandung frekuensi tengah yang dikirim ke midrange, dan satu mengandung frekuensi tinggi yang dikirim ke tweeter, seperti yang ditunjukkan diagram berikut:

Gambar 9.9 3-way crossover

Respon tipikal sebuah 3-way crossover digambarkan dalam figur berikut:

Gambar 9.10 Respon frekuensi 3-way crossover

Kita amati apa yang terjadi dengan cut frequency. Untuk menjamin rentang frekuensi terdistribusi kepada loudspeaker dengan tepat, cut frequency filter saling bertindihan. Sebagai contoh cut-off frequency rendah untuk band-pass filter berkorespondensi dengan cut-off frequency low-pass filter. Pada contoh di diagram sebelumnya kita melihat kedua cut frequency memiliki nilai 80 Hz. Nilai frekuensi ini, seperti semua frekuensi yang langsung bersebelahan dengannya, direproduksi baik oleh speaker woofer maupun midrange, sehingga direproduksi oleh dua loudspeaker sekaligus. Peningkatan ini dikompensasi secara sempurna oleh adanya gain-drop sebesar 3 dB pada cut-off frequency, sehingga jumlah kedua suara yang dihasilkan masing-masing loudspeaker mengembalikan sinyal ke amplitudo semula. Jika kita menggeser cut frequency, maka frekuensi tersebut akan direproduksi oleh kedua loudspeaker. Seiring dengan meningkatnya amplitudo tereproduksi salah satu speaker, speaker satunya tereduksi sehingga kedua speaker saling mengkompensasi agar jumlah amplitudo tetap konstan.

Aksi crossover bisa terjadi pada dua titik terpisah di rantai amplikfikasi, dengan hasil dan harga yang berbeda:

Active crossover (atau persilangan aktif): tipe crossover ini terdiri dari sebuah rangkaian aktif yang bisa menghasilkan daya sendiri dan memproses sinyal sebelum sinyal diamplifikasi. Akibatnya, pada output suatu 3-way crossover dihasilkan 3 sinyal, masing-masing membawa rentang frekuensi tertentu yang perlu diamplifikasi secara terpisah. Hal ini memungkinkan kita menggunakan amplifier yang dirancang untuk reproduksi rentang frekuensi tertentu sehingga bisa mencapai standar kualitas lebih tinggi.Crossover aktif digambarkan diagram berikut:

Gambar 9.11 Skema crossover aktif

Passive crossover (atau persilangan pasif): dalam kasus ini sinyal mencapai crossover setelah mengalami amplifikasi. Karena satu amplifier telah digunakan untuk mengamplifikasi sinyal, crossover tipe ini tidak perlu daya otonom

Gambar 9.12 Skema crossover pasif

Solusi ini jauh lebih hemat, tetapi memiliki kualitas yang lebih rendah bila dibandingkan dengan tipe crossover sebelumnya karena hanya melibatkan satu amplifier untuk seluruh spektrum suara sehingga menghasilkan amplifikasi sinyal yang lebih tidak akurat.

Iklan

9.9 Sistem Difusi Suara – Subwoofer, Woofer, Midrange, Tweeter

Dimensi membran sangat mempengaruhi kondisi fungsional loudspeaker. Semakin besar dimensi membran dan massanya, semakin kecil frekuensi resonansinya, sehingga membran besar ideal untuk mereproduksi frekuensi rendah tetapi tidak berguna untuk mereproduksi frekuensi tinggi. Dari pembagian ini muncul sub-pembagian selanjutnya loudspeaker menjadi tiga kategori utama, masing-masing didedikasikan untuk mereproduksi rentang frekuensi tertentu dari spektrum yang dapat didengar.

Woofer adalah jenis loudspeaker yang digunakan untuk reproduksi frekuensi rendah. Membran woofer cenderung besar: semakin besar membran semakin kecil frekuensi resonansinya, sehingga rentang yang bisa direproduksi loudspeaker mencapai frekuensi rendah.

Jelas, semakin besar membran, semakin banyak kuantitas udara yang digetarkan, sehingga semakin besar daya yang dibutuhkan untuk mengumpan loudspeaker secara memadai. Kadang loudspeaker yang diciptakan untuk reproduksi frekuensi sangat rendah (20 – 40 Hz) digunakan. Loudspeaker ini disebut subwoofer. Loudspeaker yang digunakan untuk reproduksi frekuensi pertengahan disebut midrange, yang lebih kecil ukurannya dibandingkan woofer dan memiliki membran yang lebih ringan. Terakhir, untuk reproduksi frekuensi rendah, tweeter digunakan, yang memiliki membran sangat kecil.